Chandra Asri Rilis Obligasi 500 Milyar

Chandra Asri Rilis Obligasi 500 Milyar

JAKARTA – PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) menetapkan rentang kupon 9,75-11% untuk penawaran umum berkelanjutan (PUB) II obligasi tahap I tahun 2018 senilai Rp 500 miliar. Surat utang ini bagian dari penawaran umum berkelanjutan (PUB) II Chandra Asri Petrochemical dengan target penghimpunan dana Rp 2 triliun. Head of Investor Relations Chandra Asri Petrochemical Harry Tamin mengatakan, perseroan bersama para penjamin emisi telah mulai melaksanakan bookbuilding atas obligasi PUB II tahap I tahun 2018. Berdasarkan hasil kajian, obligasi yang terdiri atas dua seri ini ditawarkan dengan rentang kupon 9,75-10,5% untuk obligasi PUB II tahap I seri A, dan seri B ditawarkan dengan rentang kupon 10,25-11%. “Itu merupakan rentang yang ditetapkan perseroan setelah berdiskusi dengan para penjamin emisi, dan meninjau perkembangan di pasar,” ujar Harry kepada Investor Daily di Jakarta, Minggu (18/11).

Baca Juga : Harga Genset Perkins 100 Kva

Kemudian, dia menuturkan, perseroan optimistis bahwa nilai emisi obligasi yang ditawarkan dapat diterima dan diserap dengan baik oleh investor. “Dari total plafon PUB II senilai Rp 2 triliun, kami putuskan jalan dengan tahap I senilai Rp 500 miliar. Penetapan itu disesuaikan dengan evaluasi perseroan terhadap cash flow, dan kondisi pasar,” papar dia. Maret 2018, Chandra Asri Petrochemical sebelumnya pernah menerbitkan obligasi PUB I tahap II tahun 2018 senilai Rp 500 miliar. Namun berbeda dengan surat utang perseroan yang rilis pada kuartal II lalu, kali ini Chandra Asri Petrochemical memutuskan untuk memberikan kupon yang lebih tinggi, dan hanya terbagi menjadi dua tenor. Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan, Chandra Asri Petrochemical memberikan kupon dengan rentang 7,5-9% saat merilis obligasi PUB I tahap II tahun 2018. Adapun untuk seri A pada obligasi PUB I tahap II tahun 2018 perseroan memberikan kupon 7,5%, seri B 8,25%, dan seri C sebesar 9%. Sementara, menilik isi prospektus yang perseroan rilis di media massa akhir pekan lalu, manajemen Chandra Astri Petrochemical menginformasikan, tengah menawarkan obligasi PUB II tahap I.

Berdasarkan rencana, masa bookbuilding obligasi perseroan berakhir pada 30 November mendatang, dan diperkirakan mendapat izin efektif pada 12 Desember 2018. Lebih lanjut, manajemen mengungkapkan, Chandra Asri Petrochemical berencana mencatatkan (listing) obligasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 20 Desember mendatang. Adapun perusahaan sekuritas yang menjadi penjamin emisi atas obligasi yang diterbitkan perseroan, meliputi PT BCA Sekuritas, PT DBS Vickers Sekuritas Indonesia, dan PT Mandiri Sekuritas. Obligasi PUB II Chandra Asri Petrochemical telah mendapat rating idAA- dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Adapun Harry memaparkan, perseroan berniat menggunakan 80% dana hasil emisi obligasi untuk melunasi pinjaman perbankan yang jatuh tempo pada Maret 2019, dan sisanya untuk mendukung keperluan belanja modal (capital expenditure/capex), yang secara spefisik dialokasikan untuk proyek methyl tertiary buty lether (MTBE) and Butene-1. Menelaah isi prospektus perseroan, diinformasikan bahwa pinjaman yang akan dilunasi perseroan merupakan pinjaman berupa single currency term facility senilai US$ 220 juta. Sesuai perjanjian, fasilitas tersebut akan jatuh tempo pada 29 Maret 2019.

Sementara, untuk porsi 20% dari dana hasil emisi obligasi akan emiten ini alokasikan untuk membeli mesin untuk pabrik MTBE and Butene-1. Terkait rencana ekspansi di pabrik MTBE and Butene-1, sebelumnya Harry pernah menyampaikan, pihaknya memprediksi ekspansi di pabrik tersebut bisa selesai pada kuartal III-2020, dan total belanja modal yang diestimasi mencapai US$ 130,5 juta.

Kinerja Perseroan

Berdasarkan laporan kinerja perseroan, Chandra Asri Petrochemical membukukan kenaikan total pendapatan 8,89% dari US$ 1,8 miliar menjadi US$ 1,96 miliar sampai September 2018. Namun demikian, perseroan juga mencatatkan kenaikan beban pokok pendapatan 18,25% dari US$ 1,37 miliar menjadi US$ 1,62 miliar. Karena itu, pada akhirnya emiten ini justru membukukan penurunan laba bersih 30,23% menjadi US$ 174,5 juta, jika dibandingkan posisi sebelumnya yang sebesar US$ 250,6 juta. Terkait kondisi kinerja, sebelumnya Harry menegaskan, secara fundamental bisnis Chandra Asri Petrochemical kondusif. Dia mengemukakan, sampai September lalu margin earning before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA) perseroan masih di atas siklus di industri petrokimia, yakni 17,2%. “Untuk proyeksi total pendapatan sepanjang tahun 2018, kami yakin setidaknya bisa meraih pertumbuhan dengan acuan 1,5 kali dari realisasi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia tahun ini,” tegas dia